Medan

Kota Medan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Untuk kecamatan di Kota Medan bernama Medan Kota, lihat Medan Kota, Medan.
“Medan” beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Medan, lihat Medan (disambiguasi).
Kota Medan Sumatera Nuvola single chevron right.svg Sumatera Utara
Menara Tirtanadi, Ikon Kota Medan
Menara Tirtanadi, Ikon Kota Medan
Lambang Kota Medan.

Lokasi Kota Medan di pulau Sumatera.
Motto: Bekerja sama dan sama- sama bekerja untuk kemajuan dan kemakmuran Kota Medan metropolitan[1]
Hari jadi 1 Juli 1590
Walikota Syamsul Arifin (penjabat)
Rahudman Harahap (terpilih)
Wilayah 265,10 km²
Kecamatan 21
Penduduk
-Kepadatan 2.121.053 (2009)[2]

2.102.105 (2008)[3]
2.036.018 (2005)
8.001/km²[2]
Suku bangsa Batak, Jawa, Tionghoa, Mandailing, Minangkabau, Melayu, Karo, Aceh
Bahasa Indonesia, Batak, Jawa, Hokkien, Minangkabau
Agama Islam (67,83%), Katolik (2,89%), Protestan (18,13%), Buddha (10,4%), Hindu (0,68%), lainnya (0,07%)[3]
Zona waktu WIB
Kode telepon 061

Situs web resmi: http://www.pemkomedan.go.id/

Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Sejarah
* 2 Pemerintahan
o 2.1 Walikota
* 3 Geografi
o 3.1 Sungai
* 4 Demografi
* 5 Kehidupan sosial
o 5.1 Pekerjaan
o 5.2 Pola pemukiman
o 5.3 Pendidikan
* 6 Situs pariwisata
* 7 Transportasi
o 7.1 Darat
o 7.2 Laut
o 7.3 Udara
* 8 Media massa
o 8.1 Televisi
o 8.2 Surat Kabar
* 9 Pusat perbelanjaan
o 9.1 Plaza dan Mal
o 9.2 Pasar
o 9.3 Wisata Kuliner
* 10 Olahraga
* 11 Kota kembar
* 12 Tokoh
* 13 Lihat pula
* 14 Referensi
* 15 Daftar pustaka
* 16 Pranala luar

[sunting] Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Kota Medan

Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan dinyatakan sebagai tempat kediaman Sultan Deli. Pada tahun 1883, Medan telah menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Daerah Kesawan tahun 1920-an

Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing, dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru, dan ulama.
Istana Maimun

Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha di tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.
[sunting] Pemerintahan

Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota, yang saat ini dijabat oleh Syamsul Arifin (penjabat walikota Medan, sekaligus Gubernur Sumatera Utara). Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan.

* Medan Tuntungan
* Medan Johor
* Medan Amplas
* Medan Denai
* Medan Area
* Medan Kota
* Medan Maimun
* Medan Polonia
* Medan Baru
* Medan Selayang
* Medan Sunggal
* Medan Helvetia
* Medan Petisah
* Medan Barat
* Medan Timur
* Medan Perjuangan
* Medan Tembung
* Medan Deli
* Medan Labuhan
* Medan Marelan
* Medan Belawan

[sunting] Walikota
No. Nama Masa jabatan
Daniël Mackay 1918 – 1931
J.M. Wesselink 1931 – 1935
G. Pitlo 1935 – 1938
C.E.E. Kuntze 1938 – 1942
Shinichi Hayasaki 早崎真一 1942 – 1945
1 Luat Siregar 3 Oktober – 10 November 1945
2 M. Yusuf 10 November 1945 – Agustus 1947
3 Djaidin Purba 1 November 1947 – 12 Juli 1952
4 A.M. Jalaluddin 12 Juli 1952 – 1 Desember 1954
5 Hadji Muda Siregar 6 Desember 1954 – 14 Juni 1958
6 Madja Purba 3 Juli 1958 – 28 Februari 1961
7 Basyrah Lubis 28 Februari 1961 – 30 Oktober 1964
8 P.R. Telaumbanua 10 Oktober 1964 – 28 Februari 1965
9 Aminurrasyid 28 Agustus 1965 – 26 September 1966
10 Sjoerkani 26 September 1966 – 3 Juli 1974
11 M. Saleh Arifin 3 Juli 1974 – 31 Maret 1980
12 Agus Salim Rangkuti 1 April 1980 – 31 Maret 1990
13 Bachtiar Djafar 1 April 1990 – 31 Maret 2000
14 Abdillah 1 April 2000 – 20 Agustus 2008
Afifuddin Lubis (penjabat) 20 Agustus 2008 – 22 Juli 2009[4]
Rahudman Harahap (penjabat) 23 Juli 2009[4]- 16 Februari 2010[5]
Syamsul Arifin (penjabat) 16 Februari 2010 – sekarang[5]
15 Rahudman Harahap[6] Akan menjabat
[sunting] Geografi

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30′ – 3° 43′ Lintang Utara dan 98° 35′ – 98° 44′ Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut.

Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:
Utara Selat Malaka
Selatan Kabupaten Deli Serdang
Barat Kabupaten Deli Serdang
Timur Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan sumber daya alam (SDA), khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karena secara geografis Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.

Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
[sunting] Sungai

Sedikitnya ada sembilan sungai yang melintasi kota ini:

* Sungai Belawan
* Sungai Badera
* Sungai Sikambing
* Sungai Putih
* Sungai Babura
* Sungai Deli
* Sungai Sulang-Saling
* Sungai Kera
* Sungai Tuntungan

Selain itu, untuk mencegah banjir yang terus melanda beberapa wilayah Medan, pemerintah telah membuat sebuah proyek kanal besar yang lebih dikenal dengan nama Medan Kanal Timur.
[sunting] Demografi
Tahun Penduduk
2001 1.926.052
2002 1.963.086
2003 1.993.060
2004 2.006.014
2005 2.036.018
2007 2.083.156
2008 2.102.105
2009 2.121.053
Sumber: BPS Kota Medan[3][2]

Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan saat ini diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter. Dengan demikian Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar.

Di siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 2,5 juta jiwa dengan dihitungnya jumlah penglaju (komuter). Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur 0-19 dan 20-39 tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk).

Dilihat dari struktur umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.

Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan—tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Sedangkan tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per km² pada tahun 2004. Jumlah penduduk paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di Kecamatan Medan Baru, Medan Maimun, dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada tahun 2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.

Mayoritas penduduk kota Medan sekarang ialah Suku Jawa, dan suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Di Medan banyak pula orang keturunan India dan Tionghoa. Medan salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa cukup banyak.

Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Daerah di sekitar Jl. Zainul Arifin dikenal sebagai Kampung Keling, yang merupakan daerah pemukiman orang keturunan India.

Secara historis, pada tahun 1918 tercatat bahwa Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya.
Perbandingan Etnis di Kota Medan pada Tahun 1930, 1980, 2000 Etnis Tahun 1930 Tahun 1980 Tahun 2000
Jawa 24,9% 29,41% 33,03%
Batak 10,7% 14,11% — (lihat Catatan)
Tionghoa 35,63% 12,8% 10,65%
Mandailing 6,43% 11,91% 9,36%
Minangkabau 7,3% 10,93% 8,6%
Melayu 7,06% 8,57% 6,59%
Karo 0,19% 3,99% 4,10%
Aceh — 2,19% 2,78%
Sunda 1,58% 1,90% —
Lain-lain 16,62% 4,13% 3,95%
Sumber: 1930 dan 1980: Usman Pelly, 1983; 2000: BPS Sumut[3]
Catatan: Data BPS Sumut tidak menyenaraikan “Batak” sebagai salah satu suku bangsa, namun total Simalungun (0,69%), Tapanuli/Toba (19,21%), Pakpak, (0,34%), dan Nias (0,69%) adalah 20,93%

Angka Harapan Hidup penduduk kota Medan pada tahun 2007 adalah 71,4 tahun, sedangkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 adalah 148.100 jiwa.[3]
[sunting] Kehidupan sosial
[sunting] Pekerjaan

Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, kota terbesar di Sumatra dan Selat Malaka, penduduk Medan banyak yang berprofesi di bidang perdagangan. Biasanya pengusaha Medan banyak yang menjadi pedagang komoditas perkebunan. Setelah kemerdekaan, sektor perdagangan secara konsisten didominasi oleh etnis Tionghoa dan Minangkabau. Bidang pemerintahan dan politik, dikuasai oleh orang-orang Mandailing. Dari tiga belas walikota Medan, tujuh berasal dari etnis Mandailing. Sedangkan profesi yang memerlukan keahlian dan pendidikan tinggi, seperti pengacara, dokter, notaris, dan wartawan, mayoritas digeluti oleh orang Minangkabau.[7]
Komposisi Etnis Berdasarkan Okupasi Profesional Etnis Pengacara Dokter Notaris Wartawan
Minangkabau 36,8% 20,6% 29,7% 37,7%
Mandailing 23,6% 14,1% 14,8% 18,3%
Batak 13,2% 15,9% 18,5% 8,5%
Jawa 5,3% 15,9% 11,1% 10,4%
Karo 5,3% 10% 7,4% 0,6%
Melayu 5,3% 5,9% 3,7% 17,7%
Tionghoa — 14,7% 7,4% 1,2%
Aceh 2,6% 3,9% — 3,7%
Sunda — — 3,7% 10,4%
Sumber: IDI, Peradin, Ikatan Notaris Cabang Medan, PWI, 1980
[sunting] Pola pemukiman

Perluasan kota Medan telah mendorong perubahan pola pemukiman kelompok-kelompok etnis. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli kota, banyak yang tinggal di pinggiran kota. Etnis Tionghoa dan Minangkabau yang sebagian besar hidup di bidang perdagangan, 75% dari mereka tinggal di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Pemukiman orang Tionghoa dan Minangkabau sejalan dengan arah pemekaran dan perluasan fasilitas pusat perbelanjaan. Orang Mandailing juga memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih nyaman, oleh karena itu terdapat kecenderungan di kalangan masyarakat Mandailing untuk menjual rumah dan tanah mereka di tengah kota, seperti di Kampung Mesjid, Kota Maksum, dan Sungai Mati.[7]
[sunting] Pendidikan

Medan memiliki jumlah universitas dan sekolah yang lumayan banyak. 827 sekolah dasar, 337 sekolah menengah pertama, 288 sekolah menengah atas, dan 72 perguruan tinggi telah terdaftar ke pemerintah kota Medan. [8]
[sunting] Situs pariwisata
Mesjid Raya Medan
Istana Maimun

Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan), Titi Gantung – sebuah jembatan di atas rel kereta api, dan juga Gedung London Sumatera.

Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan).

Daerah Kesawan masih menyisakan bangunan-bangunan tua, seperti bangunan PT. London Sumatra, dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura. Ruko-ruko ini, kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya. Saat ini Pemerintah Kota merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan dengan adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke kota ini.

Di daerah Kesawan ini, terdapat Kantor Notaris/PPAT Hj. Chairani Bustami, S.H. yang merupakan salah satu Notaris tertua di Medan, setelah Alm. A.P. Parlindungan, S.H. Saat ini Hj. Chairani telah pensiun dan aktif mengajar di Universitas Sumatera Utara. Aktivitas kantor ini kemudian digantikan oleh putra-putrinya yang juga meneruskan profesi orang tuanya sebagai Notaris.
[sunting] Transportasi
[sunting] Darat
Tampak dua becak motor sedang melintas di jalanan Medan.

Terminal yang melayani warga Medan:

* Terminal Sambu
* Terminal Pinang Baris
* Terminal Amplas

Keunikan Medan terletak pada becak bermotornya (“becak motor”) yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa (“becak dayung”), becak motor dapat membawa penumpangnya kemana pun di dalam kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus (angkot/”oplet”) dan taksi. Becak di Medan berbeda dengan becak di Jakarta ataupun di kota-kota Jawa lainnya. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak seperti halnya di Jawa. Ini memudahkan becak Medan untuk melalui jalan yang berliku-liku. Selain itu, ini juga memungkinkan becak Medan untuk diproduksi dengan harga yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Desain ini mengambil desain dari sepeda motor gandengan perang Jerman di perang dunia ke-2.

Akan tetapi bagi penduduk Medan, sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Sudako pada awalnya menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya. Ongkosnya pun relatif murah, yaitu Rp 2.000 untuk para pelajar, dan Rp 3.000 untuk penumpang umum.

Trayek pertama kali Sudako adalah Lin 01, (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl. Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini Daihatsu S38 500 cc sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia, dan berganti dengan mobil-mobil baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, dan Espass yang sering disebut Jumbo, karena memuat penumpang lebih banyak. Istilahnya 68 (maksudnya 6 penumpang duduk di bagian kiri, 8 penumpang duduk di bagian kanan).

Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal dari India. Beroda tiga dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama Toyoko. Sekarang Toyoko pun kabarnya akan digantikan dengan kendaraan baru yaitu Kancil.

Kereta api menghubungkan Medan dengan Tanjungpura di sebelah barat laut, Belawan di sebelah utara, dan Binjai-Tebing Tinggi-Pematang Siantar dan Tebing Tinggi-Kisaran-Rantau Prapat di tenggara. Jalan Tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Lubuk Pakam dan Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.
[sunting] Laut

Pelabuhan Belawan terletak sekitar 20 km di utara kota. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar dan teramai kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pelabuhan ini merupakan yang terpenting di Wilayah Selat Malaka karena aktivitas pelabuhan tersebut yang sangat sibuk dan padat.
[sunting] Udara

Bandar Udara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alor Setar di Malaysia, dan Singapura. Sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang sedang dalam pembangunan.
[sunting] Media massa
[sunting] Televisi

Stasiun televisi yang ada di Kota Medan antara lain adalah TVRI Medan, Deli TV, Space Toon dan DAAI TV. Saat ini juga telah mengudara dalam masa percobaan siaran televisi Bahana TV. Karena memiliki nilai berita yang sangat tinggi, seluruh stasiun TV swasta nasional memiliki koresponden dan biro di Medan. Stasiun TV yang mendirikan biro di kota ini adalah Metro TV dan akan menyusul stasiun TV lainnya. Metro TV bahkan secara khusus menempatkan mobil satellite news gathering (SNG) agar dapat bergerak cepat dan real-time dalam menyiarkan berita dari Medan.
[sunting] Surat Kabar

Di Medan terdapat tiga surat kabar yang cukup berpengaruh, yaitu Waspada, Sinar Indonesia Baru, Posmetro,MedanBisnis dan Analisa. Ketiga surat kabar tersebut memiliki pembaca loyal yang terbagi berdasarkan suku bangsa. Orang Mandailing, Minangkabau, Jawa, dan Aceh biasa berlangganan harian Waspada. Orang Batak, Karo, dan Simalungun lebih suka membaca Sinar Indonesia Baru, sedangkan etnis Tionghoa menjadi pembaca koran Analisa.
[sunting] Pusat perbelanjaan
[sunting] Plaza dan Mal

* Brastagi Mall, awalnya bernama Price Mart. Selanjutnya berganti nama menjadi The Club Store. Setelah direnovasi, plaza ini berganti nama menjadi Mall The Club Store. Dan akhirnya berganti nama menjadi Brastagi Mall.
* Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza, digabung menjadi satu dengan nama Deli Grand City.
* Grand Palladium
* Hong Kong Plaza – Novotel Soechi
* Macan Group (Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah)
* Makro
* Plaza Medan Fair
* Medan Mall, terletak di Pusat Pasar.
* Medan Plaza, salah satu plaza tertua di Medan. Kendati dekat dengan Plaza Medan Fair namun masih bertahan. Plaza ini berhasil bertahan karena tetap mempertahankan penyewa kios yang menyediakan beragam barang dan jasa yang ekonomis. Di plaza ini terdapat grosir besar sepatu dan pakaian yang ekonomis tapi berkualitas.[rujukan?]
* Millenium Plaza, pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama Tata Plaza namun akhirnya tutup karena sepi pengunjung. Tahun 1999 Tata Plaza berganti nama menjadi Millenium Plaza. Millenium Plaza merupakan salah satu pusat penjualan telepon genggam terbesar dan teramai di luar Pulau Jawa.[rujukan?]
* Perisai Plaza, sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup secara perlahan.
* Sun Plaza
* Cambridge City Square, di atasnya terdapat 4 bangunan yang berupa apartemen.
* Thamrin Plaza, terletak di Medan Area, Medan.
* Yuki Pasar Raya
* Yuki Simpang Raya
* Yanglim Plaza
* Olympia Plaza, plaza tertua di Medan (yang masih dibuka), bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi sebagai pusat perbelanjaan modern. Olympia Plaza saat ini lebih sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah)

[sunting] Pasar

* Pusat Pasar (salah satu pasar tradisional tua di Medan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur)
* Pasar Petisah (pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasar tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas)
* Pasar Beruang (terletak di Jalan Beruang)
* Pasar Simpang Limun (salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi trade mark kota Medan. Terletak di persimpangan Jl. Sisingamangaraja dan Jl. Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap penataan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas akibat kesibukan pasar ini)
* Pasar Ramai (pasar ini terletak di Jl. Thamrin yg bersebelahan dengan Thamrin Plaza)
* Pasar Simpang Melati (pasar ini terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jl. Pancing. Pasar Simpang Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan)
* Pasar Ikan Lama (meskipun memiliki nama pasar ikan tetapi nyatanya tidak ada satu ekor ikan pun yang dijual di pasar ini. Pasar ini menjadi pemasaran tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.

[sunting] Wisata Kuliner

* Kesawan Square, sejak 16 November 2007 tempat ini ditutup.
* Merdeka Walk, pusat jajanan 24 jam yang terletak di Lapangan Merdeka Medan (di depan Balai Kota Medan).
* Jalan Semarang, masakan Tionghoa (dibuka hanya pada malam hari).
* Jalan Pagaruyung, masakan India & Indonesia) daerah “Kampung Keling” (sekarang disebut “Kampung Madras”).
* Ring Road Jalan Gagak Hitam/Setia Budi, pilihan berbagai restoran dari mulai makanan siap saji, jagung bakar (malam hari) dan aneka makanan Indonesia di sepanjang jalan .
* Jalan Dr. Mansyur (Kampus USU), pilihan berbagai kafe yang menawarkan beragam hidangan.
* Ramadhan Fair, khusus dibuka pada saat bulan puasa (Ramadhan) terletak bersebelahan dengan Mesjid Raya Medan.
* Bolu gulung Meranti.
* Bika Ambon Zulaikha.

[sunting] Olahraga

Beberapa klub olah raga yang terdapat di Medan antara lain PSMS Medan (sepak bola), Medan Jaya (sepak bola) dan Angsapura Sania (basket). Gelanggang olah raga yang terdapat di Medan antara lain Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga dan GOR Angsapura. Sedangkan Lapangan untuk berolah raga (Jogging, dll) bisa menggunakan Lapangan Merdeka dan Lapangan Persit Chandra Kirana yg terletak di Jalan Gaperta.
[sunting] Kota kembar

Beberapa kota di Asia telah mendorong pembentukan Persatuan Kota Kembar, antara Medan dengan:

* Penang, Malaysia (1984)
* Ichikawa, Jepang (1989)
* Kwangju, Korea Selatan (1997)
* Chengdu, Republik Rakyat Cina
* Melbourne, Australia
* Chicago, Amerika Serikat

Forum ini telah menjadi ajang saling tukar-menukar informasi dan perundingan untuk membincangkan berbagai masalah ekonomi dan perkotaan.

Berbagai kerangka kerjasama antara kota bersaudara, kenyataannya terus berkembang dalam bidang-bidang yang semakin luas, baik sosial maupun pendidikan. Di bidang sosial, misalnya Ichikawa memanfaatkan forum ini untuk membantu pengadaan alat bantu pendengaran untuk melengkapi kemudahan kesehatan kota Medan. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, Ichikawa juga memberikan bantuan latihan bagi Pemerintah Kota Medan dalam bentuk magang, termasuk mengadakan program pertukaran pelajar diantara kedua kota.

Hal yang sama juga berlangsung antara Medan dengan kota kembar lainnya, baik Kwangju maupun Pulau Pinang. Di bidang perdagangan, forum ini telah menguruskan Pameran Perdagangan Kota Kembar (Sister City Trade Fair) yang bertaraf internasional, sehingga mampu mendorong pertemuan pengusaha-pengusaha kota masing-masing. Dengan nyata, hal ini mampu mendorong peningkatan perdagangan dan pelaburan di kota masing-masing di samping memberikan kepastian dan perluasan pasaran produk yang dihasilkan. Keberkesanan forum ini juga telah memunculkan minat kota-kota lainnya di Asia seperti Chennai, India untuk memasuki persatuan ini.
[sunting] Tokoh

Tokoh terkenal yang lahir di Medan:

* Peter Alma, seniman Belanda
* Chairil Anwar, penyair termasyur di Indonesia
* Jan Gualtherus van Breda Kolff, pemain sepak bola Belanda
* Tom Degenaars, insinyur dan rohaniwan Belanda
* Let. Jend. Djamin Ginting, Mantan Panglima Kodam I/BB
* Tengku Amir Hamzah, Pujangga
* Burhanuddin Harahap, Perdana Menteri Indonesia ke-9
* Kees Hoving, perenang Belanda
* Cees Korvinus, politikus dan advokat Belanda
* Bernardus Cornelis Johannes Lievegoed, dokter dan pengarang Belanda
* Djaga Sembiring Depari, komponis
* John Juanda, pemain poker Amerika Serikat
* Guru Patimpus Sembiring Pelawi, pendiri Kota Medan
* Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri Indonesia ke-2
* Soegiarto, Menteri Negara BUMN di Kabinet Indonesia Bersatu
* Babs van Wely, ilustrator Belanda
* Ruhut Sitompul, pengacara dan politikus terkenal di Indoneisa

[sunting] Lihat pula

* Sumatra Utara
* Daftar Provinsi Indonesia
* Daftar Daerah Tingkat II

[sunting] Referensi

1. ^ Pemko Medan – Lambang Kota Medan. Diakses pada 28 Mei 2010
2. ^ a b c BPS Kota Medan – Jumlah Penduduk & Kepadatan Penduduk Kota Medan tahun 2009. Diakses pada 5 Juli 2010
3. ^ a b c d e Indikator Statistik Esensial Provinsi Sumatera Utara 2009, Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Januari 2009, diakses 9 Januari 2010
4. ^ a b Website Pemko Medan. Diakses pada 27 Desember 2010
5. ^ a b Gubsu jadi Walikota Medan – Waspada Online. Diakses pada 11 Maret 2010
6. ^ “KPU: Rahudman-Eldin, Walikota dan Wakil Walikota Medan”, Harian Analisa, 2010-06-20. Diakses pada 5 Juli 2010.
7. ^ a b (id) Orang Melayu di Kota Medan.
8. ^ (en) Medan City, Education. Diakses pada 12 Maret 2010

[sunting] Daftar pustaka

* (id) Suti, Bayo Medan Menuju Kota Metropolitan (Yayasan Potensi Pengembangan Daerah, Medan, 1979)

[sunting] Pranala luar

Koordinat: 3°35′0″N 98°40′0″E / 3.58333°N 98.66667°E / 3.58333; 98.66667
Search Wikimedia Commons Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Kota Medan
Nuvola Indonesian flag.svg Portal Indonesia

*

Wikitravel Lihat panduan wisata Kota Medan di Wikitravel

* (id) Situs resmi Pemerintah Kota Medan
* (id) Situs Pariwisata Sumatera Utara

Koran lokal

* (id) Harian Analisa
* (id) Harian Waspada
* (id) Harian Global

l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 8.839.247 Kota Medan
Kota Medan 7 Semarang Jawa Tengah 1.352.869
2 Surabaya Jawa Timur 2.611.506 8 Depok Jawa Barat 1.339.263
3 Bandung Jawa Barat 2.288.570 9 Palembang Sumatra Selatan 1.323.169
4 Medan Sumatra Utara 2.029.797 10 Tangerang Selatan Banten 1.241.441
5 Bekasi Jawa Barat 1.940.308 11 Makassar Sulawesi Selatan 1.168.258
6 Tangerang Banten 1.451.595 12 Bogor Jawa Barat 891.467
Sumber: Situs CityPopulation.de
[sembunyikan]
l • b • s
Kota Medan, Sumatera Utara

Kecamatan

Medan Amplas • Medan Area • Medan Barat • Medan Baru • Medan Belawan • Medan Deli • Medan Denai • Medan Helvetia • Medan Johor • Medan Kota • Medan Labuhan • Medan Maimun • Medan Marelan • Medan Perjuangan • Medan Petisah • Medan Polonia • Medan Selayang • Medan Sunggal • Medan Tembung • Medan Timur • Medan Tuntungan
Lambang Kota Medan
[sembunyikan]
l • b • s
Sumatera Utara
Pusat pemerintahan: Kota Medan

Kabupaten

Asahan • Batubara • Dairi • Deli Serdang • Humbang Hasundutan • Karo • Labuhanbatu • Labuhanbatu Selatan • Labuhanbatu Utara • Langkat • Mandailing Natal • Nias • Nias Barat • Nias Selatan • Nias Utara • Padang Lawas • Padang Lawas Utara • Pakpak Bharat • Samosir • Serdang Bedagai • Simalungun • Tapanuli Selatan • Tapanuli Tengah • Tapanuli Utara • Toba Samosir
Lambang Provinsi Sumatera Utara

Kota

Binjai • Gunungsitoli • Medan • Padang Sidempuan • Pematangsiantar • Sibolga • Tanjungbalai • Tebing Tinggi
Lihat pula: Daftar kabupaten dan kota Indonesia
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Medan”
Kategori: Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Juli 2010 | Ibu kota provinsi di Indonesia | Kota di Sumatera Utara | Kota di Indonesia | Kota Medan

Tentang zunaediedi

saya paling suka sama dunia moifikasi
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s